Suzuki Satria F150 Club

Artikel > Teknologi
Harapan Besar, Meraih Pasar
Dikirim oleh admin
Kamis, 28-September-2006, 22:16:17 (8726 klik) Versi Cetak

Namanya jualan, kadang ramai dan kadang sepi. Persis, itulah yang dialami oleh pabrikan motor di tahun 2006 ini. Setelah 'booming' penjualan di tahun sebelumnya, pasar roda dua menukik tajam di awal tahun 2006.




Terima kasih kepada harga BBM yang melambung tinggi, dan membuat harga kebutuhan merambat naik. Sektor ekonomi menjadi lesu, pasar kurang bergairah gara-gara daya beli menurun. Belum lagi tingkat suku bunga yang naik, menyebabkan perusahaan leasing mengetatkan pemberian kredit. Padahal, lewat jalur kreditlah selama ini sebagian besar masyarakat membeli motor baru. Tak ayal, pabrikan pun terkena imbasnya. Berbagai trik dicoba untuk menggairahkan pasar semisal dengan menghujani media dengan iklan, peluncuran produk baru, pemberian hadiah langsung, penyelenggaraan event-event dan lain sebagainya. Di antara 3 besar produsen roda dua Jepang, Suzuki tampak paling adem ayem padahal Yamaha dan Honda sibuk baku hantam.

Suzuki mengalami penurunan paling tajam di antara 3 besar lainnya, meski masih di atas Kawasaki. Pun demikian, mengingat Suzuki lebih senior dari Kawasaki dan pernah menggapai posisi nomor dua di bawah Honda dan mengalahkan Yamaha, rasanya menarik untuk menyimak lebih dalam apa yang sebenarnya terjadi di tubuh pabrikan berlogo 'S' ini. Diakui oleh salah satu petingginya, Suzuki mengalami penurunan penjualan salah satunya akibat terlambatnya Suzuki mengeluarkan varian baru dibandingkan rivalnya. Suzuki Arashi yang digadangkan sanggup membetot perhatian tampaknya kurang sukses di pasaran (tampaknya iklan TV-nya kurang mengena). Demikian pula dengan Suzuki Shogun 125 SP yang terkesan masih belum mampu berbicara lebih banyak seperti yang diharapkan.

Padahal, Suzuki memiliki 'modal' yang cukup untuk melakukan gebrakan. Terbukti dengan dilancarkannya program Suzuki 3 tahun gratis biaya service dan oli, yang merupakan tindakan yang sangat berani. Disusul lagi dengan adanya kebijakan 'Recall-system' secara blak-blakan dan terbuka untuk semua produk Suzuki. Luar biasa. Suatu hal yang sepertinya 'haram' hukumnya bagi produsen, malah dilakukan oleh Suzuki. Tak ayal, seharusnya ini bisa mengharumkan nama Suzuki di tanah air. Namun, sepertinya program luar biasa ini masih belum mampu mengangkat Suzuki dari keterpurukan dan membuat Suzuki kembali disegani. Ada apakah gerangan ?

Jika melihat trend Suzuki selama ini, saya melihat bahwa Suzuki cenderung menjadi 'follower' dalam mengeluarkan produk khususnya varian bebek. Tidak seperti Yamaha yang memilih keluar dari persaingan head-to-head dengan market leader dan membuka 'samudra biru', Suzuki masih saja berenang di 'samudra merah' yang membuatnya makin 'berdarah-darah' bertempur head-to-head dengan Honda. Padahal, Suzuki telah membuktikan dirinya mampu bertindak sebagai pionir. Hei, siapa yang paling dulu menerapkan sistem pengaman kunci kontak ? Suzuki. Siapa yang memiliki bebek berkapasitas paling gede ? Suzuki. Siapa yang lebih dulu menerapkan sistem cakram depan belakang pada bebek ? Suzuki. Siapa pabrikan yang paling dulu berani menjamin produknya selama 3 tahun yang lantas menjadi acuan pabrikan lain ? Suzuki. Ya ! Suzuki nyata sebetulnya memiliki modal untuk menjadi pionir dan bukan follower. Namun di lapangan, Suzuki malah terbantai. Mungkin strategi marketingnya perlu dibenahi ? Suzuki butuh terobosan fresh dan anyar untuk mengubah image Suzuki di masyarakat yang berpendapat bahwa Suzuki adalah motor pilihan ke sekian dan bukan pilihan utama. Suzuki butuh image baru !



Kegagalan Suzuki Arashi atau Suzuki Katana dalam menyegarkan pasar, ditambah Smash yang sudah ampun-ampunan melwan Honda New Supra Fit dan Yamaha New Vega R, membuat penjualan Suzuki makin terpuruk. Untunglah, pada akhirnya Suzuki mengeluarkan juga senjata balasannya. Suzuki New Smash ! Saya yakin, New Smash bisa 'berbicara' lebih banyak ketimbang Suzuki Arashi. Suzuki membekali Smash baru dengan serentetan fitur untuk menekuk pesaingnya bahkan dengan harga yang sama dengan produk pendahulunya ! Inilah saatnya Smash kembali men-smash rival-rivalnya, persis ketika dulu Smash dilaunching sebagai produk di segmen menengah ke bawah. Kehadiran New Smash, tak ayal membuat produk-produk rivalnya jadi terlihat kuno. Dengan konsep pemasaran yang bagus plus New Smash (seharusnya) merupakan produk berkualitas tinggi tanpa cacat karena merupakan evolusi dari Smash lama, saya yakin New Smash bisa mengkatrol penjualan Suzuki.

Senjata kedua dipersiapkan. Suzuki mengeluarkan versi lokal dari Satria F-150. Ini betul-betul kejutan karena selama ini, meski kue pasar untuk bebek sport sangat kecil, Satria F memiliki pangsa pasar sendiri dan juga image eksklusif yang tak bisa dimiliki produsen lain. Suzuki harus jeli memperhatikan hal ini. Motor yang harganya cukup irasional buat kendaraan sekelas bebek terbukti memiliki peminat yang terbilang lumayan dan ini berarti segmen ini ada ! Pemainnya juga sedikit. Inilah 'samudra biru' yang pantas untuk digarap dan akhirnya Suzuki melihat hal itu dengan meluncurkan Satria F 150 versi lokal yang lekat dengan kesan 'lebih murah'.



Bukan Suzuki namanya jika mengeluarkan produk tanggung-tanggung. Satria F boleh dirakit lokal namun Suzuki justru menampik kesan bahwa lokalnya Satria F ini merupakan indikasi penurunan kualitas. Tidak. Suzuki membekali Satria F baru dengan fitur baru yang bahkan sanggup membuat iri pemilik Satria F lama (CBU Thailand). Dengan makin terjangkaunya harga Satria F (karena telah dirakit lokal), jelas akan merangsang pertumbuhan pasar di segmen ini. Suzuki harus menjadi nomor satu di segmen ini kendati kecil kue pasarnya. Ini salah satu cara, menurut saya, untuk menguatkan image Suzuki. Yang harus pula diperhatikan untuk Satria F baru, adalah jaminan kualitas yang tetap baik meski rakitan lokal, lebih trouble free dan ketersediaan sparepart di pasaran. Yakinlah, Suzuki memiliki kapasitas untuk itu.

Hal yang sama juga dilakukan Suzuki lewat varian otomatisnya yang bergelar Suzuki Spin. Di saat kedua rivalnya baku tembak di kelas 110 cc, Suzuki mencoba menawarkan publik skutik berkapasitas di atasnya, 125 cc. Namun hal ini harus dicermati karena bisa menjadi bumerang. Motor matik yang identik dengan boros bahan bakar, bisa jadi membuat Suzuki Spin mengalami 'spin di tempat' alias tidak laku karena dianggap bakal boros luar biasa.

Pun begitu, langkah untuk keluar dari 'samudra merah', tampaknya sudah dilakukan oleh Suzuki. Semoga langkah ini terus dilakukan oleh Suzuki di masa mendatang.

(Tok)
Foto : Dok. Motor Plus


Sumber: Nio Pangestu
URL: http://bebeksableng.blogspot.com
Penyelaras Akhir: pk / SSFC-003


 
Username:
Password:

» Registrasi
» Lupa Password?
Total Klik: 2282224
Total Online: 2
 Hak cipta terpelihara ©2005 ssfc.or.id, pk.
Enak dilihat pada resolusi 800x600.
Segala merek dagang yang terdapat pada situs ini adalah hak milik dari masing-masing pemilik.
Situs ini dibangun menggunakan morON CUMS (http://moron.datacrux.org), 2005 pk.
Tema layout "moron_ssfc_or_id_two", disain oleh pk, integrasi kode oleh pk, 2005 SSFC, Suzuki Satria F150 Club.
Bacalah dengan seksama Kesepakatan dan Aturan Main.